Rabu, 07 April 2010

TERPENDAM 'RASA YANG TERTINGGAL'

Suasana masih dingin meski hujan telah reda. Rio masuk ke rumah Fina. Saat itu ia melihat wajah Fina yang sedang murung, dan Rio merasa terdorong untuk menghiburnya.
“Hey, dasar pemales. Ayo bangun, tiduran aja dari tadi.”
Fina kaget ketika mendengar suara Rio yang usil tapi tetap merdu itu.
“Eh, Rio.”
Rio langsung membopong Fina yang masih lemas menuju halaman belakang rumah.
“Fin, coba, deh kamu hirup wanginya. Wangi tanah seabis ujan. Hmm, so natural…”, gaya bicara Rio penuh ekspresi.
“Tapi sayangnya aku lebih suka wangi kue yang baru selesai dipanggang. Hmm, yummy…”, balas Fina yang mulai tersenyum.
Seterusnya, Rio berhasil menghibur Fina, sahabatnnya yang baru sembuh dari sakit asmanya.

Beberapa hari setelah itu…
“drrrt.. drrrt..”, ponsel Fina bergetar memecah kesunyian di siang sepinya itu. Ternyata Fina mendapati sebuah pesan dari Rio yang berisi :
“Fin,tmenin aku jalan donk ! nnti sore aku jmput km,, Emh, ad yg mw aku omongin nih . . ”, isinya yang terdengar memaksa membuat Fina agak kesal karena keinginan Rio yang mendadak, tapi sebenarnya ia pun tak ingin menolaknya.

Sepanjang kebersamaan mereka, mungkin Rio telah benar-benar suka. Kalau saja ia tidak terpesona pada cahaya yang terpancar dalam diri Fina, lalu menjalin persahabatan dengannya, adakah perasaan ingin dekat ?
Sore harinya Fina menyanggupi permintaan Rio. Rio mengajak Fina pergi ke sebuah tempat perbukitan.

Setelah sampai di tempat tujuan…
Emh, tempatnya cukup indah. Mungkin tempat ini bisa memberikan ketenangan bagi hati Rio yang tengah bimbang akan perasaannya terhadap Fina.
“Io, bagus banget tempatnya. Liat, deh, itu bunga-bunga, kan disana ?!”, kagum Fina.
“iya, kamu mau kesana ? yuk !”, ajak Rio.
Fina pun segera berlari-lari ke tengah hamparan hijau nan indah itu.
“Eh, Fin. Jangan lari-lari, dong !”, larang Rio yang khawatir pada kondisi Fina.

Rio memang tidak banyak mengetahui tentang penyakit yang diidap Fina. Sebenarnya penyakit itu semakin parah. Sedikit saja lelah mendera Fina, maka saat itulah sakitnnya akan kambuh.
Fina yang tidak menghiraukan larangan Rio, terus berlari-lari kecil sambil sesekali memetiki bunga yang ada di sekitarnya.
Di bawah puncak bukit itu, Fina yang mulai kelelahan karena berlari-lari, membaringkan badannya di atas rumput, begitu pun Rio yang mengikuti di sampingnya.
“Io, aku suka banget, lho tempat ini. Hmm, seger. Kamu, kok jadi sok romantis gini, sih ?”
“a..hah ? Apaan ? Maaf, aku gak denger..”, tanya Rio yang kebingungan karena baru tersadar dari lamunan pendeknya. Sepanjang lamunannya, tidak terlepas dari bayang-bayang Fina. Rio semakin dilema dengan perasaannya. Di satu sisi, Rio memang sangat menyayangi Fina melebihi perasaannya terhadap seorang sahabat. Tapi di sisi lain, Rio takut bila perasaannya diungkapkan, dan persahabatannya akan berkeping-keping. Rio belum siap untuk menerima resiko yang akan ditimbulkannya itu.
“ih, kamu kenapa, sih ? Ngelamun, ya ?”
“e..enggak, kok !”, tegas Rio.
“Aneh banget. Oh iya, katanya kamu mau bilang sesuatu ma aku, apaan ?”, tanya Fina dengan nafas yang mulai tersendat.
Butuh waktu lama untuk Rio menjawabnya.
“Emmh…”
“Aduuh..”, ringis Fina.
“Fin, kamu gak apa-apa ? Ya udah kita pulang aja, ya ?!”
“e..ehh, aku gak apa-apa, kok. Lagian masih ada yang mau kamu aku omongin ke aku, ‘kan ?”
“Iya, tapi mungkin bukan sekarang waktunya. Itu bisa aku omongin lagi nanti. Mending sekarang aku anter kamu pulang aja, ya.”
Akhirnya Fina mengagguk melihat ekspresi Rio yang khawatir akan dirinya.
Hari berganti hari…
Tiada kabar dari Fina. Saat Rio ke rumah Fina, orang di rumah mengatakan bahwa beberapa hari ini Fina dirawat di rumah sakit. Alangkah kagetnya Rio mendengar kabar itu.
Akhirnya Rio pun pergi menjenguk Fina di rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Rio segera masuk ke kamar dimana Fina dirawat. Disana, Rio melihat Fina yang terbaring. Wajah manisnya terpejam.
Tiba-tiba saat itu Fina terbangun dan melihat Rio yang sudah berdiri di samping tempat tidurnya.
“Rio..”, kata Fina lemas.
“Hai, Fin. Ini aku.”
“Udah lama disitu ?”
“Enggak, kok. Aku baru dateng.”
“Oh..”
“Kamu masih lemes, Fin ?”
“Ah, enggak, kok. Malahan aku ngerasa lebih sehat, nih.”, bantah Fina meski wajah pucatnya tak bisa di sembunyikan.
“Emm, Io. Mau temenin aku keluar, gak ?”
Rio terdiam sejenak, agak ragu-ragu dengan ajakan Fina.
“Kemana ?”
“Ke taman belakang sana. Aku udah bosen, nih di kamar terus. Mau, ya ?”, pinta Fina pada Rio.
“Tapi sekarang, 'kan udah sore, udaranya pasti dingin, deh. Mending disini aja, ya.”
Berkali-kali Rio membujuk Fina untuk tetap berada di kamarnya, tapi Fina tetap terkekeh ingin pergi keluar kamar. Akhirnya Rio pun menemani Fina.
Fina yang membandel dari larangannya, pergi ke taman untuk mengagumi indahnya sore, dan menikmati sentuhan angin yang lembut. Mereka duduk berdampingan di atas rumput hijau.
Fina menghirup hawa sore itu dalam-dalam seakan ruang paru-parunya terisi penuh.
Fina menempelkan kepalanya di bahu Rio, dan menggengam jemari Rio, lalu tiba-tiba air mata Fina meleleh.
“Fin, kamu kenapa ?”
“Gak pa-pa..”, jawab Fina lirih.
Dalam kesedihan oleh perasaan apapun, Fina seolah selalu menemukan kekuatan dari genggaman jemari Rio. Tapi sekarang tidak lagi..
Tubuh Fina semakin lemas. Keringat dingin mengucur.
Rio menggenggam jemari Fina lebih erat, seolah ingin memberinya kekuatan lagi, tapi tidak bereaksi apa-apa.
Kini, tubuhnya tergolek layu di atas rumput…
Air mata Rio menetes.
“Fin, Fina.. Fina !!!”, teriak Rio yang shock seketika.
Sore itu…
Fina pergi untuk selamanya. ‘Terbang jauh’ menuju dunia lain.
Sejak saat itu, Rio hanya terpaku, diam tak bergarak, dan sesekali menangis.
Rio sangat menyesal karena tidak sempat menyatakan perasaannya yang selama ini telah terpendam, dan kini, tertinggal…


Broken Heart Myspace Comments
MyNiceProfile.com