Senin, 06 Desember 2010
Kamis, 21 Oktober 2010
Sabtu, 14 Agustus 2010
bintang malam ,,
kini kau tak lagi berada sedekat dulu ,,
berada d dekat bulan yg temaram itu ,,
tp aq tw ,,
meskipun kau jauh d snna ,,
bulan pasti akan sangat bahagia bisa kembali melihat cahyamu ,,
kembali menerangi lekatnya langit yg gelap ini . .
oh cinta pertamaku . .
akupun sgt berharap kau seperti bintang malam itu ,,
aku ingin ,,
kau sinari kasihku dgn tulusnya cintamu . .
kini kau tak lagi berada sedekat dulu ,,
berada d dekat bulan yg temaram itu ,,
tp aq tw ,,
meskipun kau jauh d snna ,,
bulan pasti akan sangat bahagia bisa kembali melihat cahyamu ,,
kembali menerangi lekatnya langit yg gelap ini . .
oh cinta pertamaku . .
akupun sgt berharap kau seperti bintang malam itu ,,
aku ingin ,,
kau sinari kasihku dgn tulusnya cintamu . .
Minggu, 01 Agustus 2010
kata my sista :
one voice
one simple word
heart knows what to say
one dream
can change the world
keep believing
til you find your way
one simple word
heart knows what to say
one dream
can change the world
keep believing
til you find your way
Jumat, 23 Juli 2010
Like This
Walt Disney
"Jika Anda dapat memimpikannya, Anda dapat melakukannya."
Emile Cone
"Setiap hari dalam keadaan apapun, belajarlah utk terus berkembang."
Ali bin Abi Thalib
"Kesempatan datangnya seperti awan berlalu. Oleh krn itu, pergunakanlah selagi ia tampak di hadapanmu."
"Jika Anda dapat memimpikannya, Anda dapat melakukannya."
Emile Cone
"Setiap hari dalam keadaan apapun, belajarlah utk terus berkembang."
Ali bin Abi Thalib
"Kesempatan datangnya seperti awan berlalu. Oleh krn itu, pergunakanlah selagi ia tampak di hadapanmu."
Kamis, 22 Juli 2010
Love Story
We were both young when I first saw you
I close my eyes and the flashback starts
I'm standing there on a balcony in summer air
See the lights, see the party, the ball gowns
See you make your way through the crowd
And say hello, little did I know
That you were Romeo
You were throwing pebbles
And my daddy said stay away from Juliet
And I was crying on the staircase
Begging you please don't go
And I said
Romeo, take me somewhere we can be alone
I'll be waiting, all there's left to do is run
You'll be the prince and I'll be the princess
It's a love story, baby, just say yes
So I sneak out to the garden to see you
We keep quiet 'cause we're dead if they knew
So close your eyes, escape this town for a little while
Oh, oh, oh
'Cause you were Romeo,
I was a scarlet letter
And my daddy said stay away from Juliet
But you were everything to me
I was begging you please don't go
Romeo, save me, they're trying to tell me how to feel
This love is difficult, but it's real
Don't be afraid, we'll make it out of this mess
It's a love story, baby, just say yes
oh oh
I got tired of waiting
Wondering if you were ever coming around
My faith in you was fading
When I met you on the outskirts of town
And I said
Romeo save me, I've been feeling so alone
I keep waiting for you but you never come
Is this in my head, I don't know what to think
He knelt to the ground and he pulled out a ring
And said
Marry me, Juliet, you'll never have to be alone
I love you and that's all I really know
I talked to your dad, you'll pick out a white dress
It's a love story, baby, just say yes
Oh, oh, oh, oh
'Cause we were both young when I first saw you
*(TS)
I close my eyes and the flashback starts
I'm standing there on a balcony in summer air
See the lights, see the party, the ball gowns
See you make your way through the crowd
And say hello, little did I know
That you were Romeo
You were throwing pebbles
And my daddy said stay away from Juliet
And I was crying on the staircase
Begging you please don't go
And I said
Romeo, take me somewhere we can be alone
I'll be waiting, all there's left to do is run
You'll be the prince and I'll be the princess
It's a love story, baby, just say yes
So I sneak out to the garden to see you
We keep quiet 'cause we're dead if they knew
So close your eyes, escape this town for a little while
Oh, oh, oh
'Cause you were Romeo,
I was a scarlet letter
And my daddy said stay away from Juliet
But you were everything to me
I was begging you please don't go
Romeo, save me, they're trying to tell me how to feel
This love is difficult, but it's real
Don't be afraid, we'll make it out of this mess
It's a love story, baby, just say yes
oh oh
I got tired of waiting
Wondering if you were ever coming around
My faith in you was fading
When I met you on the outskirts of town
And I said
Romeo save me, I've been feeling so alone
I keep waiting for you but you never come
Is this in my head, I don't know what to think
He knelt to the ground and he pulled out a ring
And said
Marry me, Juliet, you'll never have to be alone
I love you and that's all I really know
I talked to your dad, you'll pick out a white dress
It's a love story, baby, just say yes
Oh, oh, oh, oh
'Cause we were both young when I first saw you
*(TS)
Selasa, 20 Juli 2010
More Than Words
Saying I love you
Is not the words
I want to hear from you
It's not that I want you
Not to say
But if you only knew
How easy
It would be to
Show me how you feel
More than words
Is all you have to to
To make it real
Then you wouldn't
Have to say
That you love me
Cause I'd already know
What would you do
If my heart
Was torn in two
More than words
To show you feel
That your love
For me is real
What would you say
If I took
Those words away
Then you couldn't
Make things new
Just by saying
I love you
More than words
More than words
Now that I've tried to
Talk to you
And make you understand
All you have to do
Is close your eyes
And just reach out your hands
And touch me
Hold me close
Don't ever let me go
More than words
Is all I ever
Needed you to show
Then you wouldn't
Have to say
That you love me
'Cause I already know
*(W)
Is not the words
I want to hear from you
It's not that I want you
Not to say
But if you only knew
How easy
It would be to
Show me how you feel
More than words
Is all you have to to
To make it real
Then you wouldn't
Have to say
That you love me
Cause I'd already know
What would you do
If my heart
Was torn in two
More than words
To show you feel
That your love
For me is real
What would you say
If I took
Those words away
Then you couldn't
Make things new
Just by saying
I love you
More than words
More than words
Now that I've tried to
Talk to you
And make you understand
All you have to do
Is close your eyes
And just reach out your hands
And touch me
Hold me close
Don't ever let me go
More than words
Is all I ever
Needed you to show
Then you wouldn't
Have to say
That you love me
'Cause I already know
*(W)
Minggu, 23 Mei 2010
Rabu, 12 Mei 2010
Rabu, 07 April 2010
TERPENDAM 'RASA YANG TERTINGGAL'
Suasana masih dingin meski hujan telah reda. Rio masuk ke rumah Fina. Saat itu ia melihat wajah Fina yang sedang murung, dan Rio merasa terdorong untuk menghiburnya.
“Hey, dasar pemales. Ayo bangun, tiduran aja dari tadi.”
Fina kaget ketika mendengar suara Rio yang usil tapi tetap merdu itu.
“Eh, Rio.”
Rio langsung membopong Fina yang masih lemas menuju halaman belakang rumah.
“Fin, coba, deh kamu hirup wanginya. Wangi tanah seabis ujan. Hmm, so natural…”, gaya bicara Rio penuh ekspresi.
“Tapi sayangnya aku lebih suka wangi kue yang baru selesai dipanggang. Hmm, yummy…”, balas Fina yang mulai tersenyum.
Seterusnya, Rio berhasil menghibur Fina, sahabatnnya yang baru sembuh dari sakit asmanya.
Beberapa hari setelah itu…
“drrrt.. drrrt..”, ponsel Fina bergetar memecah kesunyian di siang sepinya itu. Ternyata Fina mendapati sebuah pesan dari Rio yang berisi :
“Fin,tmenin aku jalan donk ! nnti sore aku jmput km,, Emh, ad yg mw aku omongin nih . . ”, isinya yang terdengar memaksa membuat Fina agak kesal karena keinginan Rio yang mendadak, tapi sebenarnya ia pun tak ingin menolaknya.
Sepanjang kebersamaan mereka, mungkin Rio telah benar-benar suka. Kalau saja ia tidak terpesona pada cahaya yang terpancar dalam diri Fina, lalu menjalin persahabatan dengannya, adakah perasaan ingin dekat ?
Sore harinya Fina menyanggupi permintaan Rio. Rio mengajak Fina pergi ke sebuah tempat perbukitan.
Setelah sampai di tempat tujuan…
Emh, tempatnya cukup indah. Mungkin tempat ini bisa memberikan ketenangan bagi hati Rio yang tengah bimbang akan perasaannya terhadap Fina.
“Io, bagus banget tempatnya. Liat, deh, itu bunga-bunga, kan disana ?!”, kagum Fina.
“iya, kamu mau kesana ? yuk !”, ajak Rio.
Fina pun segera berlari-lari ke tengah hamparan hijau nan indah itu.
“Eh, Fin. Jangan lari-lari, dong !”, larang Rio yang khawatir pada kondisi Fina.
Rio memang tidak banyak mengetahui tentang penyakit yang diidap Fina. Sebenarnya penyakit itu semakin parah. Sedikit saja lelah mendera Fina, maka saat itulah sakitnnya akan kambuh.
Fina yang tidak menghiraukan larangan Rio, terus berlari-lari kecil sambil sesekali memetiki bunga yang ada di sekitarnya.
Di bawah puncak bukit itu, Fina yang mulai kelelahan karena berlari-lari, membaringkan badannya di atas rumput, begitu pun Rio yang mengikuti di sampingnya.
“Io, aku suka banget, lho tempat ini. Hmm, seger. Kamu, kok jadi sok romantis gini, sih ?”
“a..hah ? Apaan ? Maaf, aku gak denger..”, tanya Rio yang kebingungan karena baru tersadar dari lamunan pendeknya. Sepanjang lamunannya, tidak terlepas dari bayang-bayang Fina. Rio semakin dilema dengan perasaannya. Di satu sisi, Rio memang sangat menyayangi Fina melebihi perasaannya terhadap seorang sahabat. Tapi di sisi lain, Rio takut bila perasaannya diungkapkan, dan persahabatannya akan berkeping-keping. Rio belum siap untuk menerima resiko yang akan ditimbulkannya itu.
“ih, kamu kenapa, sih ? Ngelamun, ya ?”
“e..enggak, kok !”, tegas Rio.
“Aneh banget. Oh iya, katanya kamu mau bilang sesuatu ma aku, apaan ?”, tanya Fina dengan nafas yang mulai tersendat.
Butuh waktu lama untuk Rio menjawabnya.
“Emmh…”
“Aduuh..”, ringis Fina.
“Fin, kamu gak apa-apa ? Ya udah kita pulang aja, ya ?!”
“e..ehh, aku gak apa-apa, kok. Lagian masih ada yang mau kamu aku omongin ke aku, ‘kan ?”
“Iya, tapi mungkin bukan sekarang waktunya. Itu bisa aku omongin lagi nanti. Mending sekarang aku anter kamu pulang aja, ya.”
Akhirnya Fina mengagguk melihat ekspresi Rio yang khawatir akan dirinya.
Hari berganti hari…
Tiada kabar dari Fina. Saat Rio ke rumah Fina, orang di rumah mengatakan bahwa beberapa hari ini Fina dirawat di rumah sakit. Alangkah kagetnya Rio mendengar kabar itu.
Akhirnya Rio pun pergi menjenguk Fina di rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Rio segera masuk ke kamar dimana Fina dirawat. Disana, Rio melihat Fina yang terbaring. Wajah manisnya terpejam.
Tiba-tiba saat itu Fina terbangun dan melihat Rio yang sudah berdiri di samping tempat tidurnya.
“Rio..”, kata Fina lemas.
“Hai, Fin. Ini aku.”
“Udah lama disitu ?”
“Enggak, kok. Aku baru dateng.”
“Oh..”
“Kamu masih lemes, Fin ?”
“Ah, enggak, kok. Malahan aku ngerasa lebih sehat, nih.”, bantah Fina meski wajah pucatnya tak bisa di sembunyikan.
“Emm, Io. Mau temenin aku keluar, gak ?”
Rio terdiam sejenak, agak ragu-ragu dengan ajakan Fina.
“Kemana ?”
“Ke taman belakang sana. Aku udah bosen, nih di kamar terus. Mau, ya ?”, pinta Fina pada Rio.
“Tapi sekarang, 'kan udah sore, udaranya pasti dingin, deh. Mending disini aja, ya.”
Berkali-kali Rio membujuk Fina untuk tetap berada di kamarnya, tapi Fina tetap terkekeh ingin pergi keluar kamar. Akhirnya Rio pun menemani Fina.
Fina yang membandel dari larangannya, pergi ke taman untuk mengagumi indahnya sore, dan menikmati sentuhan angin yang lembut. Mereka duduk berdampingan di atas rumput hijau.
Fina menghirup hawa sore itu dalam-dalam seakan ruang paru-parunya terisi penuh.
Fina menempelkan kepalanya di bahu Rio, dan menggengam jemari Rio, lalu tiba-tiba air mata Fina meleleh.
“Fin, kamu kenapa ?”
“Gak pa-pa..”, jawab Fina lirih.
Dalam kesedihan oleh perasaan apapun, Fina seolah selalu menemukan kekuatan dari genggaman jemari Rio. Tapi sekarang tidak lagi..
Tubuh Fina semakin lemas. Keringat dingin mengucur.
Rio menggenggam jemari Fina lebih erat, seolah ingin memberinya kekuatan lagi, tapi tidak bereaksi apa-apa.
Kini, tubuhnya tergolek layu di atas rumput…
Air mata Rio menetes.
“Fin, Fina.. Fina !!!”, teriak Rio yang shock seketika.
Sore itu…
Fina pergi untuk selamanya. ‘Terbang jauh’ menuju dunia lain.
Sejak saat itu, Rio hanya terpaku, diam tak bergarak, dan sesekali menangis.
Rio sangat menyesal karena tidak sempat menyatakan perasaannya yang selama ini telah terpendam, dan kini, tertinggal…

MyNiceProfile.com
“Hey, dasar pemales. Ayo bangun, tiduran aja dari tadi.”
Fina kaget ketika mendengar suara Rio yang usil tapi tetap merdu itu.
“Eh, Rio.”
Rio langsung membopong Fina yang masih lemas menuju halaman belakang rumah.
“Fin, coba, deh kamu hirup wanginya. Wangi tanah seabis ujan. Hmm, so natural…”, gaya bicara Rio penuh ekspresi.
“Tapi sayangnya aku lebih suka wangi kue yang baru selesai dipanggang. Hmm, yummy…”, balas Fina yang mulai tersenyum.
Seterusnya, Rio berhasil menghibur Fina, sahabatnnya yang baru sembuh dari sakit asmanya.
Beberapa hari setelah itu…
“drrrt.. drrrt..”, ponsel Fina bergetar memecah kesunyian di siang sepinya itu. Ternyata Fina mendapati sebuah pesan dari Rio yang berisi :
“Fin,tmenin aku jalan donk ! nnti sore aku jmput km,, Emh, ad yg mw aku omongin nih . . ”, isinya yang terdengar memaksa membuat Fina agak kesal karena keinginan Rio yang mendadak, tapi sebenarnya ia pun tak ingin menolaknya.
Sepanjang kebersamaan mereka, mungkin Rio telah benar-benar suka. Kalau saja ia tidak terpesona pada cahaya yang terpancar dalam diri Fina, lalu menjalin persahabatan dengannya, adakah perasaan ingin dekat ?
Sore harinya Fina menyanggupi permintaan Rio. Rio mengajak Fina pergi ke sebuah tempat perbukitan.
Setelah sampai di tempat tujuan…
Emh, tempatnya cukup indah. Mungkin tempat ini bisa memberikan ketenangan bagi hati Rio yang tengah bimbang akan perasaannya terhadap Fina.
“Io, bagus banget tempatnya. Liat, deh, itu bunga-bunga, kan disana ?!”, kagum Fina.
“iya, kamu mau kesana ? yuk !”, ajak Rio.
Fina pun segera berlari-lari ke tengah hamparan hijau nan indah itu.
“Eh, Fin. Jangan lari-lari, dong !”, larang Rio yang khawatir pada kondisi Fina.
Rio memang tidak banyak mengetahui tentang penyakit yang diidap Fina. Sebenarnya penyakit itu semakin parah. Sedikit saja lelah mendera Fina, maka saat itulah sakitnnya akan kambuh.
Fina yang tidak menghiraukan larangan Rio, terus berlari-lari kecil sambil sesekali memetiki bunga yang ada di sekitarnya.
Di bawah puncak bukit itu, Fina yang mulai kelelahan karena berlari-lari, membaringkan badannya di atas rumput, begitu pun Rio yang mengikuti di sampingnya.
“Io, aku suka banget, lho tempat ini. Hmm, seger. Kamu, kok jadi sok romantis gini, sih ?”
“a..hah ? Apaan ? Maaf, aku gak denger..”, tanya Rio yang kebingungan karena baru tersadar dari lamunan pendeknya. Sepanjang lamunannya, tidak terlepas dari bayang-bayang Fina. Rio semakin dilema dengan perasaannya. Di satu sisi, Rio memang sangat menyayangi Fina melebihi perasaannya terhadap seorang sahabat. Tapi di sisi lain, Rio takut bila perasaannya diungkapkan, dan persahabatannya akan berkeping-keping. Rio belum siap untuk menerima resiko yang akan ditimbulkannya itu.
“ih, kamu kenapa, sih ? Ngelamun, ya ?”
“e..enggak, kok !”, tegas Rio.
“Aneh banget. Oh iya, katanya kamu mau bilang sesuatu ma aku, apaan ?”, tanya Fina dengan nafas yang mulai tersendat.
Butuh waktu lama untuk Rio menjawabnya.
“Emmh…”
“Aduuh..”, ringis Fina.
“Fin, kamu gak apa-apa ? Ya udah kita pulang aja, ya ?!”
“e..ehh, aku gak apa-apa, kok. Lagian masih ada yang mau kamu aku omongin ke aku, ‘kan ?”
“Iya, tapi mungkin bukan sekarang waktunya. Itu bisa aku omongin lagi nanti. Mending sekarang aku anter kamu pulang aja, ya.”
Akhirnya Fina mengagguk melihat ekspresi Rio yang khawatir akan dirinya.
Hari berganti hari…
Tiada kabar dari Fina. Saat Rio ke rumah Fina, orang di rumah mengatakan bahwa beberapa hari ini Fina dirawat di rumah sakit. Alangkah kagetnya Rio mendengar kabar itu.
Akhirnya Rio pun pergi menjenguk Fina di rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Rio segera masuk ke kamar dimana Fina dirawat. Disana, Rio melihat Fina yang terbaring. Wajah manisnya terpejam.
Tiba-tiba saat itu Fina terbangun dan melihat Rio yang sudah berdiri di samping tempat tidurnya.
“Rio..”, kata Fina lemas.
“Hai, Fin. Ini aku.”
“Udah lama disitu ?”
“Enggak, kok. Aku baru dateng.”
“Oh..”
“Kamu masih lemes, Fin ?”
“Ah, enggak, kok. Malahan aku ngerasa lebih sehat, nih.”, bantah Fina meski wajah pucatnya tak bisa di sembunyikan.
“Emm, Io. Mau temenin aku keluar, gak ?”
Rio terdiam sejenak, agak ragu-ragu dengan ajakan Fina.
“Kemana ?”
“Ke taman belakang sana. Aku udah bosen, nih di kamar terus. Mau, ya ?”, pinta Fina pada Rio.
“Tapi sekarang, 'kan udah sore, udaranya pasti dingin, deh. Mending disini aja, ya.”
Berkali-kali Rio membujuk Fina untuk tetap berada di kamarnya, tapi Fina tetap terkekeh ingin pergi keluar kamar. Akhirnya Rio pun menemani Fina.
Fina yang membandel dari larangannya, pergi ke taman untuk mengagumi indahnya sore, dan menikmati sentuhan angin yang lembut. Mereka duduk berdampingan di atas rumput hijau.
Fina menghirup hawa sore itu dalam-dalam seakan ruang paru-parunya terisi penuh.
Fina menempelkan kepalanya di bahu Rio, dan menggengam jemari Rio, lalu tiba-tiba air mata Fina meleleh.
“Fin, kamu kenapa ?”
“Gak pa-pa..”, jawab Fina lirih.
Dalam kesedihan oleh perasaan apapun, Fina seolah selalu menemukan kekuatan dari genggaman jemari Rio. Tapi sekarang tidak lagi..
Tubuh Fina semakin lemas. Keringat dingin mengucur.
Rio menggenggam jemari Fina lebih erat, seolah ingin memberinya kekuatan lagi, tapi tidak bereaksi apa-apa.
Kini, tubuhnya tergolek layu di atas rumput…
Air mata Rio menetes.
“Fin, Fina.. Fina !!!”, teriak Rio yang shock seketika.
Sore itu…
Fina pergi untuk selamanya. ‘Terbang jauh’ menuju dunia lain.
Sejak saat itu, Rio hanya terpaku, diam tak bergarak, dan sesekali menangis.
Rio sangat menyesal karena tidak sempat menyatakan perasaannya yang selama ini telah terpendam, dan kini, tertinggal…

MyNiceProfile.com
Langganan:
Postingan (Atom)














